INSPIRASI DAN PANDANGAN HIDUP a�� Bab 6: Menemukan Suara Panggilan Jiwa

INSPIRASI DAN PANDANGAN HIDUP 

Bab 6:

Menemukan Suara Panggilan Jiwa

Mendalami habit kita

Menemukan suara panggilan jiwa Anda untuk selalu berbuat dan memikirkan kepentingan orang banyak, atau kepentingan rakyat jelata dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara kemerdekaan jiwa mereka.

Berikut adalah tulisan Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 sildenafil in pakistan. Habits of Highly Effective People.

 
 

Kontinum Kematangan

Ketergantungan a��a�?Kemandirian a��a�?Saling ketergantungan.

Contoh  perkembangan manusia dari bayia��a�?dewasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemandirian jauh lebih matang dibandingkan ketergantungan. Kemandirian itu sendiri adalah pencapaian utama. Tetapi kemandirian bukanlah pencapaian yang tertinggi. Mudah untuk melihat bahwa kemandirian jauh lebih matang dibandingkan ketergantungan. Kemandirian itu sendiri adalah pencapaian utama, namun bukanlah pencapaian tertinggi.

Walaupun demikian, paradigma sosial mutakhir menobatkan kemandirian. Kemandirian adalah cita-cita yang diakui oleh banyak individu dan gerakan sosial. Sebagian besar dari materi perbaikan diri memuja kemandirian, seolah-olah komunikasi, kerja kelompok, dan kerja sama memiliki nilai yang lebih rendah.

Namun sebenarnya banyak dari penekanan kita pada kemandirian hanya merupakan reaksi terhadap ketergantungan—terhadap orang lain yang mengendalikan kita, mendefinisikan kita, memanfaatkan, dan memanipulasi kita.

Konsep yang sedikit dimengerti oleh banyak orang tentang kesaling-tergantungan tampak menyerang ketergantungan, sehingga kita melihat banyak orang, sering karena alasan yang egois, meninggalkan perkawinan mereka, meninggalkan anak-anak mereka, dan melepaskan segala macam tanggung jawab sosial—demi kemandirian.

Jenis reaksi yang mengakibatkan orang “melepaskan diri dari belenggu mereka”, “menjadi terbebas”, “menonjolkan diri”, dan “mengerjakan urusan mereka sendiri” sering menyingkapkan ketergantungan yang lebih mendasar yang tidak dapat dihindari, lebih karena bersifat internal ketimbang eksternal—ketergantungan seperti membiarkan kelemahan orang lain merusak kehidupan emosionil kita atau perasaan dijadikan korban oleh orang lain dan kegiatan-kegiatan yang lepas dari kendali kita.

Tentu kita mungkin perlu mengubah keadaan kita. Namun demikian ketergantungan adalah masalah kematangan pribadi yang kecil kaitannya dengan keadaan. Bahkan dengan keadaan yang lebih baik sekalipun, ketidak-matangan dan ketergantungan sering muncul.

Kemandirian sejati dari karakter memberi kekuatan pada kita untuk bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Ia membebaskan kita dari ketergantungan kita pada keadaan dan orang lain dan ia merupakan cita-cita yang layak dan memerdekakan kita. Namun, kemandirian bukanlah tujuan tertinggi dalam kehidupan yang efektif.

Ketujuh kebiasaan juga merupakan kebiasaan keefektifan karena di­dasarkan pada paradigma keefektifan yang selaras dengan hukum alam, suatu prinsip yang disebut "Keseimbangan P/KP," dan banyak orang merusak diri mereka sendiri karena melanggarnya. Prinsip ini dapat di­mengerti dengan mudah dengan mengingat label Aesop tentang angsa dan telur emas.

Apakah Anda pernah menerima warisan dari orang tua, keluarga, teman dekat dalam segala bentuk? Ternyata warisan yang pernah kita terima ini adalah salah satu penentu nasib dan keberuntungan dalam kehidupan kita. Mulailah dari sekarang kita waspadai warisan-warisan ini.

Dibawah ini saya petikan cerita dari “buku filsafat kehidupan” yang sudah saya terjemahkan, silakan menikmati.

Takdir, Nasib, dan Keberuntungan

Konon disalah satu kota kecil di kerajaan China tinggal seorang pemuda pencopet. Ia dijuluki pencopet ulung, karena pekerjaannya hanya mencuri dan sukar ditangkap basah. Pada suatu hari, pencopet ini melihat orang berkerumun sedang menanyakan nasib mereka kepada seorang peramal kenamaan, dimana dalam pengembaraan ia mampir ke kota kecil itu.

“Anda akan ada kesempatan menjadi anak angkat raja”, kata peramal itu kepada pencopet. Dengan tertawa geli pencopet itu pergi sambil bergumam: “Peramal apaan itu, sembarangan saja.”

Pada waktu itu jaman peperangan, setiap waktu bisa terjadi perang—baik antara suku, daerah, maupun perebutan kekuasaan negara. Suatu malam gelap gulita, gubuk derita sang pencopet digedor dan pintu dibuka paksa oleh seorang yang luka parah dan minta perlindungan kepada pencopet tersebut. Tidak lama kemudian, sekelompok prajurit menggedor pintu dan menanyakan apakah melihat seseorang yang terluka, dan pencopet tersebut menjawab bahwa ia melihat seseorang lari ke arah jalan, sambil mengarahkan telunjuknya ke jalan kecil di kampung itu. Alhasil orang yang terluka itu selamat, dan setelah menanyakan jelas nama dan alamat rumahnya ia berjanji akan membalas budi kebaikannya, dan akan datang lagi menjemput untuk diangkat jadi anak angkatnya. Dengan tergopoh-gopoh ia meninggalkan gubuk derita itu, lalu lari dan menghilang dalam kegelapan malam.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan normal kembali. Sang pencopet juga tetap menjalani profesinya, masalah lalu mulai terlupakan. Pada suatu senja di serambi muka gubuk pencopet sedang bermalas-malasan, ia melihat sekelompok prajurit datang. Dalam ketakutan ia langsung bersembunyi. Prajurit langsung menuju ke rumahnya dan berteriak memanggil-manggil namanya. “Celaka aku pasti mau ditangkap” pikirnya. Tanpa ragu ia melompat pagar dan melarikan diri. Jauh dibelakangnya prajurit terus memanggil namanya. Ia lolos dari prajurit itu, maka hilanglah sudah kesempatan jadi anak angkat raja, karena yang ia tolong itu adalah seorang raja dan prajurit itu adalah utusannya untuk menjemput dan menepati janji akan mengangkat  pencopet itu sebagai anak angkatnya.

Dalam kehidupan kita, berapa banyak orang yang kehilangan kesempatan hanya karena cacat karakternya. Pernah ada seorang karyawan kehilangan kesempatan naik pangkat, karena ia sering main curang dalam pemainan catur. Kalau dalam permainan catur saja suka main curang, bagaimana kalau ia menduduki tempat yang penting? Ada juga orang yang kehilangan kesempatan karena beban mental atas titel “S”nya, jika hanya karena titel “S1” atau “S2” saja orang tidak mau turun ke bawah, bagaimana ia bisa memberikan teladan yang baik kepada bawahannya?

Takdir dan Keberuntungan yang Berkaitan dengan Bank Emosi

            Seorang pemuda miskin, demi mencukupi biaya uang kuliahnya, memasarkan barang dari rumah ke rumah. Karena keinginan untuk dapat mengumpulkan cukup uang secepatnya, maka ia bertekad untuk menghemat dan menebalkan muka minta makanan kepada orang untuk mengisi perutnya.

Pintu rumah diketuknya, terlihat seorang  gadis cilik membukakan pintu. Ia berkata dalam hati, Ya Tuhan, mana ada seorang pemuda perkasa mengemis makanan pada seorang gadis kecil? ” Maka hilanglah keberaniannya. Akhirnya ia hanya meminta segelas air untuk minum. Gadis kecil dapat melihat betapa kelaparan sang pemuda, maka ia berikan segelas air beserta beberapa potong roti. Dengan cepat dilahapnya roti tersebut. Sang gadis kecil diam-diam tertawa melihatnya.

Sehabis makan, dengan perasaan penuh terima kasih ia berkata: “Terima kasih, berapa harga yang harus kubayar?” Dengan tertawa lugu gadis kecil menjawab, ”Tidak usahlah, di rumah kami banyak makanan.” Pemuda itu merasa sangat beruntung mendapatkan perlakuan yang ramah di tempat yang asing itu.

Beberapa tahun kemudian, gadis kecil terserang penyakit yang jarang ditemukan. Banyak dokter tidak sanggup mengobatinya. Keluarga gadis tersebut mendengar di suatu tempat ada seorang dokter yang terkenal, maka mereka segera membawanya ke dokter tersebut. Dalam jangka panjang perawatan dokter yang teliti dan telaten, akhirnya penyakit tersebut dapat disembuhkan.

Saat hendak pulang, seorang perawat memberikan amplop bon. Sang gadis hampir tidak berani membuka amplop tersebut, pikirnya akan bekerja seumur hidup baru bisa bayar ongkos pengobatan tersebut. Namun akhirnya ia membuka juga dan terlihat ada beberapa kata yang tertulis dalam bon tersebut: ”Segelas air minum dan beberapa potong roti sudah cukup untuk membayar seluruh biaya pengobatan ini.” Dengan berlinang air mata, ia mengerti bahwa dokter yang mengobati dan merawatnya adalah pemuda miskin yang pernah ia jumpai.

Apa yang kita dapatkan dari cerita ini? Memberikan bunga rose, wanginya menempel ditangan; Pertolongan tetesan air, dibalas dengan sumber air yang melimpah. Besarnya jasa “Segelas air dan roti” setimpal dengan besarnya harga biaya pengobatan, besarnya nilai dikarenakan perhatian tulus dan kasih sayang terkait terhadap jiwa orang.

         

Kekuatan Kasih Sayang

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang dosen sosiologi pernah membawa seisi kelas mahasiswanya untuk mengadakan survey ke daerah kumuh orang hitam dan melakukan investigasi lingkungan hidup dan latar belakang keluarga 200 laki-laki dewasa disana. Dan ia memberikan kesimpulan penilaian bagi perkembangan hidup mereka yang akan datang. Setiap mahasiswa hampir mendapatkan kesimpulan yang sama, yaitu semua anak-anak di daerah kumuh ini—tak terkecuali, dinyatakan memiliki hari depan yang suram sekali, tidak ada harapan, kehidupannya biasa saja, dsb.

Dua puluh lima tahun kemudian, salah satu dari mahasiswa tersebut menjadi dosen. Lalu, tanpa sengaja ia menemukan arsip laporan ini dalam gudang penyimpanan arsip. Ia tertarik ingin mengetahui kelanjutan hidup dari anak-anak ini. Maka ia memerintahkan muridnya untuk menelusuri kasus ini.

Hasil kesimpulannya adalah bahwa setelah dewasa, anak-anak tersebut, selain 20 orang pindah alamat dan telah meninggal, sisanya 180 orang ada 176 orang mendapatkan pekerjaan yang bagus—malahan sebagian orang memiliki pekerjaan yang sangat bagus, diantaranya ada yang menjadi pengacara, dokter, dan pengusaha.

Sang dosen sangat takjub dan heran. Maka ia memutuskan untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam. Ia mengunjungi orang-orang yang dulu pernah ditemuinya, dan bertanya ”Apa yang menyebabkan Anda bisa sukses saat ini?” Jawaban mereka hampir sama semuanya, “Karena saya mendapatkan seorang guru yang baik.”

Dosen tersebut menjumpai guru yang mereka sebut itu. Guru ini sudah tua, tetapi mata dan pendengarannya masih baik. Sang dosen dengan rendah hati ingin belajar dengan cara apa sang guru bisa membawa anak-anak berandalan—yang tanpa harapan ini bisa menjadi orang-orang yang sukses?

Dengan mata yang berkilauan dan penuh dengan welas asih, sambil tersenyum nenek tua menjawab: ”Sebenarnya tidak ada rahasia apa-apa. Saya sangat mencintai anak-anak ini. Dan saya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan. Juga saya memberikan pengertian tentang bagaimana menjadi “orang sukses”.

Kekuatan yang paling besar di dunia ini adalah kasih sayang. Dengan lingkungan yang sama, tapi karena kasih sayang yang berbeda, maka perkembangan nasib orang pun akan berbeda. Kasih sayang dapat mengubah lingkungan kehidupan. Kasih sayang bisa membuat banyak keajaiban. Bahkan cinta kasih bisa mengubah seluruh dunia. ((dipetik dari cerita mandarin “Buku filsafat kehidupan “ diterjemahkan oleh Usman Arifin)

Bakti Anak kepada Orang Tuanya 

          

Seorang masiswa lulusan universitas terkenal di Jepang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar, dan sedang diwawancara oleh pimpinan perusahaan. Setelah mengamati pemuda tersebut, tanpa disangka pimpinan perusahaan memberikan pertanyaan demikian: 

PP                    : “Apakah Anda pernah mengelap atau memandikan tubuh salah satu dari kedua

                          orang tuamu?”

Pemuda           : “Tidak pernah”

PP                    : ”Kalau begitu pernahkah Anda memijat punggung kedua orang tuamu?”

Pemuda           : ” Pernah, sewaktu saya di SD, setelah itu ibu memberikan 10 dollar.”

         

Setelah pembicaraan tersebut, pimpinan perusahaan menghibur dan memberikan semangat padanya, bahwa masih ada harapan. Disaat berpisah, pimpinan perusahan berpesan untuk kembali lagi besok pada waktu yang sama, tapi dengan syarat bahwa sebelum menghadap, ia harus melakukan hal yang ia belum lakukan, yaitu membasuh tubuh kedua orang tuanya. “Bisakah Anda melakukannya?” tanyanya. Dan, pemuda itu menyanggupinya.

            Walaupun sudah lulus kuliah, keluarga pemuda itu tetap saja miskin. Saat ia baru lahir, ayahnya telah meninggal dunia. Kemudian ia mengandalkan perjuangan ibunya. Lalu anak tersebut menjadi dewasa. Karena nilainya yang cemerlang, ia dapat diterima di sebuah universitas terkenal di Tokyo. Walaupun biaya kuliahnya sangat mahal, sang ibu tidak pernah mengeluh. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk membiayai kuliah anaknya sampai lulus. Hingga saat itu, ibunya masih tetap bekerja sebagai pembantu.

Saat pemuda itu sampai di rumah, ibunya belum pulang. Ia berpikir, “Kaki ibu pasti kotor sekali sehabis berjalan kaki dari perjalanan yang jauh, akan kubasuh kedua kaki ibu.” Ia benar melakukannya tatkala ibunya tiba di rumah. Sang ibu merasa heran anaknya hendak membasuh kedua kaki kotornya. “Saya masih bisa membasuh kedua kaki saya sendiri, kamu tidak perlu melakukannya.”

Sang anak menjelaskan mengapa ia harus membasuh kedua kaki ibunya. Dengan penuh pengertian, maka ibu menuruti kehendak anaknya. Ia pun duduk di bangku, dan mencelupkan kedua telapak kakinya ke dalam baskom yang telah disediakan anaknya.

            Dengan tangan kanan memegang handuk, dan tangan kiri memegang kaki ibunya, ia mulai merasakan, bahwa kedua kaki ibunya sudah keras dan kaku bagaikan kayu. Ia memeluk kedua kaki ibunya dan menangis tersedu-sedu. Sewaktu ia sekolah dulu, ia merasa wajar saja jika kiriman uang dari ibu digunakan selain untuk membayar uang sekolah, juga untuk jajan sehari-hari. Sekarang ia baru sadar bahwa uang tersebut didapat dari cucuran keringat bahkan darah ibunya.

Keesokan hari, sang pemuda menemui pimpinan perusahaan. Ia berkata, ”Sekarang saya baru sadar, ibu mengalami banyak kesengsaraan demi anaknya, Anda telah memberikan saya sebuah pengertian yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Terima kasih, pak. Jika bukan karena Anda, saya tidak pernah memegang kaki ibu, dan saya hanya punya satu ibu, saya mau melayani dan menjaga ibu, ibu tidak boleh lagi hidup sengsara.”

            Dengan menganggukkan kepala, pimpinan perusahaan berkata, ”Baiklah, besok Anda boleh masuk kerja.”

            Jika seseorang sama sekali tidak memerhatikan orang yang berkorban paling besar untuk nya, apakah ia bisa memerhatikan orang lain? Dan apa yang bisa diharapkan balas budi yang tulus darinya? Menyayangi diri sendiri, memperlakukan orang lain dengan baik, harus dimulai dari berbuat kebaikan pada orang tua sendiri.  (dipetik dari cerita mandarin “Buku filsafat kehidupan “ diterjemahkan oleh Usman Arifin)

Hidup dengan Memegang Prinsip Kebenaran

 

Suatu kali, seorang akuntan muda ditawarkan pekerjaan yang mudah dan gampang sekali untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang besar, tapi hal ini membuatnya tidak mudah. Pekerjaan ini ilegal, karena itu tidak ada orang yang boleh mengetahuinya, tapi hal ini menggoncangkan pikirannya, karena ia harus melakukan pekerjaannya dengan melanggar etik. Dia hanya memberikan informasi data internal yang ia kuasai kepada perusahaan yang menjadi kompetitor perusahaan tempat ia bekerja. Ia menjadi bingung dan tidak dapat memutuskan apakah ia mau menerima pekerjaan itu. Ia meminta waktu satu hari untuk berpikir.

Sesampainya di rumah, ia bicara kepada ibunya mengenai pekerjaan ini—termasuk term dan kondisinya serta besarnya uang yang akan ia dapatkan. Ibunya seorang buta huruf. Ia bersabar mendengar anaknya cerita selama dua jam. Kemudian ia berkata, ”Nak, saya tidak mengerti apa yang baru saja kamu jelaskan. Tapi yang bisa ibu jelaskan padamu hanya satu hal, setiap pagi di saat ibu masuk ke kamar tidurmu, ibu melihat kamu tidur dengan nyenyak, sehingga sulit untuk membangunkanmu. Ibu tidak suka jika pada suatu pagi ibu melihat kamu tidak bisa tidur sepanjang malam. Keputusan akhir ada di tanganmu, kamu putuskan sendiri.” Setelah mengucapkan kata-kata itu ibunya keluar kamar. Anak muda itu berkata dalam hati, “Aku sudah mendapatkan jawabannya.”  (Dipetik dari karangan “Living With honour” karangan shav Khera buku ini sedang kami terjemahkan kedalam bahasa Indonesia)

Setiap orang mempunyai nilai dalam kehidupan. Nilai itu yang mempengaruhi seluruh kehidupannya. Dan nilai itu ada dalam diri orang tersebut. Nilai ini memperkuat karakter kita dan memperkuat kepercayaan kita terhadap kebenaran.

Tulus Ikhlas atau Kebohongan

Terjemahan bebas oleh: Usman A (Diambil dari buku: Livingwith Honour)

Seorang yang sekarat di tempat tidurnya berdoa dan berjanji kepada Tuhan, jika ia bisa sembuh dan sehat kembali, maka ia akan menjual rumah mewahnya. Hasil dari penjualan itu seluruhnya akan disumbangkan kepada fakir miskin.

Lalu, sebuah keajaiban terjadi. Penyakitnya perlahan-lahan sembuh dan kesehatannya pulih kembali. Ia teringat akan janjinya, tapi ia merasa sayang dengan harta yaitu rumah mewahnya. Maka ia merencanakan sesuatu. Ia memasang iklan untuk menjual rumahnya dengan harga sekeping dolar, tapi dengan syarat harus membeli anjingnya juga dengan harga 1 juta dolar. Tidak lama kemudian, ia mendapatkan pembeli. Ia menjual rumahnya, 1 juta dolar ia miliki, dan menyumbangkan ke fakir miskin hanya 1 keping dolar.

Setelah membaca cerita di atas, kita pasti tertawa. Tapi apa yang kita tertawakan? Pengujian nyata terhadap ketulusan dan keikhlasan akan berhadapan dengan godaan. Apa yang orang janjikan kepada Tuhannya, walaupun telah dipenuhi, tapi ia telah memperkosa jiwanya sendiri. Sering terjadi, di saat kita memerlukan kontak ke dalam hati nurani kita, tidak tersambung karena jalurnya sibuk.

Balas Budi yang Terbaik      

Fleming adalah seorang petani miskin di Skotlandia. Suatu hari saat ia sedang bekerja di sawah, ia mendengar ada yang menangis di dalam rawa yang dekat dari situ, sambil menjerit-jerit minta tolong. Sang petani segera menaruh peralatannya dan lari ke arah tepi rawa. Ternyata ia menemukan seorang anak kecil jatuh di kolam jamban yang penuh kotoran. Si petani akhirnya menolong nyawa anak itu yang nyaris mati.

Keesokan harinya, sebuah kereta mewah berhenti di depan rumah petani. Dari dalam kereta keluar seorang bangsawan parlente dan memperkenalkan bahwa ia adalah ayah dari anak yang pernah ditolong petani tersebut. Ia berkata”Aku akan membalas kebaikan budimu, karena Anda telah menolong jiwa anakku.” Namun jawab si petani, “Saya tidak bisa menerima balas budi hanya karena saya telah menolong anak Anda.”

Saat itu anak si petani masuk ke rumah gubuk. Bangsawan bertanya apakah anak muda itu anaknya. Petani dengan bangga menjawab benar itu adalah anaknya. Bangsawan akhirnya berkata, “Begini saja, kita membuat perjanjian. Ijinkanlah aku membawa anakmu, agar dia mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jika anak ini seperti ayahnya, maka di kemudian hari dia akan menjadi seorang yang membanggakan ayahnya.”

Si petani setuju. Beberapa tahun kemudian, anak sang petani itu lulus dari universitas kedokteran Santa Maria, dan mendapatkan titel Sir Alexander Fleming (6 Agustus 1881–11 Maret 1955). Orang tersebut ialah ilmuwan Skotlandia yang berhasil menemukan penisilin, yaitu sejenis antibiotik yang dihasilkan oleh jamur Penicillium Notatum. Zat temuannya ini dapat digunakan untuk membunuh banyak jenis bakteri yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Bersama dengan Ernst Chain dan Howard Florey, Baron Florey menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1945.

Beberapa tahun kemudian, anak dari bangsawan ini terjangkit penyakit infeksi paru-paru (TBC). Kita bisa menebak siapakah yang menolongnya, Panisilin. Dan siapakah bangsawan tersebut? Ia adalah Sir Winston Leonard Spencer Churchill (30 November, 1874 – 24 Januari 1965). Beliau adalah tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang paling dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua. Peranannya sebagai ahli strategi, orator, diplomat, dan politisi terkemuka; menjadikan Churchill salah satu dari tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Pada tahun 1953, Churchil dianugrahkan penghargaan Nobel di bidang literatur karena sumbangan yang ia berikan dalam buku-buku karangannya mengenai bahasa Inggris dan sejarah dunia.

Sebuah jasa kecil dari tindakan petani yang didorong oleh hati yang welas asih, seorang bangsawan yang membalas budi dengan tulus, membuahkan suatu perubahan  yang maha dasyat di dunia.

Titik Pandang yang Berbeda

Seorang ahli jiwa mengadakan tes kejiwaan terhadap dua orang anak yang berumur 7 tahun. Thomas adalah seorang anak dari keluarga miskin, mempunyai 6 saudara, sedangkan Andi adalah anak tunggal seorang dokter yang kaya.

            Ahli jiwa memperlihatkan sebuah gambar seekor anak kelinci yang sedang menangis di pinggir meja, disisinya berdiri mama kelinci yang mukanya sedang cemberut, ia menanyakan kedua anak, apa yang diceritakan olah gambar tersebut?.

            Thomas langsung menjawab:”Anak kelinci kenapa menangis, karena dia belum kenyang makannya, ia ingin makan lagi, tapi makanan dirumah sudah tak ada lagi, mamanya merasa sangat sedih.”

            “Bukan begitu.” Kata Andi:”Kenapa dia menangis, karena ia sudah kenyang dan tak mau makan lagi, tapi mamanya memaksa harus makan lagi.”

            Asal usul kelahiran yang berbeda, lingkungan hidup dan pengalaman hidup yang berbeda, sangat mempengaruhi paradigma seseorang, mempengaruhi nasibnya seumur hidup. Kaya dan miskin selamanya adalah kedua ujung timbangan yang saling berlawanan, tuhan hanya bisa dengan diam-diam mengharapkan manusia untuk bisa hidup bahagia dalam kedua kehidupan dunia ini.

Tugas Kita Adalah Berikhtiar. 

Ketika orang lain berbicara sejuta basa, tetaplah anda bekerja.

Cangkullah sawah itu dan taburi dengan benih. Ketika orang  

lain berdiam tak tahu harus berkata apa, teruskan kerja anda.

Siangi dan airi putik-putik yang baru bertunas itu. Ketika 

orang lain saling tuding saling hunus, bekerjalah dalam 

istirahat anda. Senandungkan seranai pengundang angin dan 

gerimis. Ketika orang lain terlelap pada tidur nyenyak mereka,

jangan putuskan kerja anda. Bekerjalah dengan doa dan harapan;

"Semoga ikhtiar ini menjadi kebaikan bagi segenap semesta."

Maka, ketika orang lain tergugah dari peraduannya, ajaklah

mereka untuk mengangkat sabit memungut panen yang telah masak.

Bila mereka tak jua berkenan, jangan kecil hati. Terus dan

tetaplah bekerja. Bekerja, karena itulah yang semestinya kitakerjakan.

Apa pun yang terjadi di muka bumi, sang mentari tak berhenti

sedetik pun dari kerja; mengipasi tungku pembakaran raksasanya;

menebarkan kehangatan ke seluruh galaksi. Maka, tak ada alasan

yang lebih baik untuk keberadaan kita di sini, selain bekerja,

mengubah energi hangat matari menjadi kebaikan semesta.

(Petikan dari sumber yang terlupa dicatat)

Berbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu kehendaki supaya orang lain berbuat kepada mu

Jangan melakukan sesuatu terhadap orang lain yang kamu tak ingin orang lain melakukannya kepadamu.  (petikan kata-kata Kong Hu Zhu)

 

Usman Arifin dilahirkan di indramayu tahun 1948,sekolah di mandarin school, (saat itu masih diperbolehkan). Waktu umur 10 tahun, diajak oleh ibunya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Betapa berkesannya pak Usman, betapa pentingnya sekolah, tanpa bantuan ibunya tidak ada kesempatan untuk bekerja sambil bersekolah. Figure seorang ibu selalu teringat di benaknya, di dalam hati yang paling dalam, pak Usman selalu berterima kasih kepada ibunya. Pak Usman menikah dengan Lim Yuli Muliana,dan dikaruniai 3 orang anak bernama Leo Hermanto, Kurniati Lestari dan Sani Nuriah Lestari, sekarang pak Usman sudah mempunyai cucu 3 . Sampai saat ini bapak adalah Komisaris di 2 perusahaan Tritunggal Prakarsa Prima Mandiri PT bergerak dibidang bahan advertizing, PT. TRIASINDO MACHINERY - Indonesia. Yang bergerak dibidang alat oven roti.

One comment on “INSPIRASI DAN PANDANGAN HIDUP a�� Bab 6: Menemukan Suara Panggilan Jiwa
  1. Lany Martahadi Lim says:

    Dear Pak Usman,

    Selamat Pak Usman telah membuka blog yang kami tunggu-tunggu.

    Saya senang membaca cerita inspiratif Bapak, mengenai Bob Sadino, tukang copet, anak perempuan yang baik hati, dan survey daerah kumuh. Memang dasarnya saya selaku teman dan yang sudah seperti adik pak Usman, dari dulu paling senang mendengar pak Usman bercerita.

    Saya sangat terkesan dari cerita survey daerah kumuh yang berjudul " Kekuatan Kasih Sayang", seorang guru dapat merubah masa depan anak-anak daerah kumuh menjadi orang yang berhasil dan berguna di masyarakat, walaupun dari hasil survey dinyatakan bahwa anak-anak disana tidak ada harapan.  Betapa hebatnya pendidikan, pengetahuan dan kebudayaan yang disampaikan dengan penuh kasih sayang oleh seorang guru yang berdedikasi. Jika kita memiliki lebih banyak lagi pendidik yang seperti guru tersebut , maka generasi berikutnya benar-benar merupakan penerus yang dapat diandalkan dan sukses dengan siraman kasih sayang.

    Semoga tambah banyak pembaca yang membuka blog ini.

    Salam sukses,

     

    Lany

     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*